Temulawak Menurunkan atau Menaikan Berat Badan? ANALISIS PENELITIAN

Posted on Posted in Farmasi, Kolesterol, Penurun Berat Badan

Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb) sebagai Anti-Kolesterol

Deskripsi Umum

Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.) adalah salah satu tumbuhan obat keluarga Zingiberaceae yang banyak tumbuh dan digunakan sebagai bahan baku obat tradisional di Indonesia (Sidik et al. 1992; Prana 2008). Tumbuhan temulawak secara empiris banyak digunakan sebagai obat tunggal maupun campuran. Terdapat lebih dari dari 50 resep obat tradisional menggunakan temulawak (Achmad et al. 2007). Eksistensi temulawak sebagai tumbuhan obat telah lama diakui, terutama dikalangan masyarakat Jawa. Rimpang temulawak merupakan bahan pembuatan obat tradisional yang paling utama. Kasiat temulawak sebagai upaya pemelihara kesehatan, disamping sebagai upaya peningkatan kesehatan atau pengobatan penyakit. Temulawak sebagai obat atau bahan obat tradisional akan menjadi tumpuan harapan bagi pengembangan obat tradisional Indonesia sebagai sediaan fitoterapi yang kegunaan dan keamanan dapat dipertanggungjawabkan (Sidik et al. 1992).

Mekanisme

Dalam mendukung pencarian obat hiperlipidemia yang aman dan efektif, saat ini banyak dilakukan penggalian bahan-bahan alam. Salah satunya penelitian terhadap tanaman rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Rimpang temulawak mengandung berbagai komponen kimia diantaranya xanthorrhizol, kurkuminoid yang di dalamnya terdapat zat kuning (kurkumin) dan desmetoksi kurkumin, minyak atsiri, protein, lemak, selulosa dan mineral (Rahardjo, 2010). Kurkumin merupakan fraksi dari kurkuminoid yang mempunyai aktivitas biologi berspektrum luas. Kurkumin dapat digunakan sebagai antioxidan, antiinflamasi, dan anti hiperkolesterol (Peschel et al., 2006). Hasil penelitian Septiana et al (2006) menyebutkan bahwa kandungan kurkumin pada ekstrak temulawak (Curcumaxanthorrhiza Roxb.) mampu menghambat oksidasi LDL dan akumulasi kolesterol esterpada makrofag. Mekanisme kurkumin dalam temulawak untuk menurunkan kolesterol adalah karena fungsinya sebagai kolagoga (perangsang empedu). Aktivitas kolagoga rimpang temulawak ditandai dengan meningkatnya produksi dan sekresi empedu, dengan meningkatnya pengeluaran cairan empedu maka akan menurunkan kadar kolesterol yang tinggi (Dalimartha, 2006). Berdasarkan latar belakang di atas, mendorong untuk dilakukan penelitian mengenai efek hipolipidemia ekstrak etanol rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap kolesterol total pada tikus putih hiperlipidemia.

Analisis Artikel

ArtikelMetodeHasil
Pengaruh Ekstrak Etanol Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Kadar Kolesterol Total Pada Tikus Putih HiperlipidemiaIn-Vivo, TikusPositif menurunkan kadar kolesterol total
Modulatory Effect Of Curcumin On Methionine Induced Hyperlipidemia and Hyperhomocystemia in Albino RatsIn-Vivo, TikusPositif penurunan yang signifikan terhadap kadar kolesterol total, trigliserida dan LDL-C, selain itu juga menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap kadar HDL-C.
Curcumin As ”Curecumin”: From Kitchen To ClinicIn-Vivo, IndividuPositif pada 10 individu yang sehat, pemberian kurkumin 500 mg selama tujuh hari secara signifikan menurunkan lipid peroksida serum, meningkatkan kolesterol HDL serum, dan menurunkan kolesterol total serum.
Penghambatan Oksidasi LDL dan Akumulasi Kolesterol pada Makrofag oleh Ekstrak Temulawak (Curcuma Xanthorhiza Roxb)Positif mampu menghambat

oksidasi LDL dan akumulasi kolesterol ester pada makrofag.

 

Peningkat Nafsu Makan

Peningkatan trigliserid terjadi meskipun setelah penggunaan ketiga herbal diatas. Hal ini diduga karena temulawak memiliki aktivitas peningkat nafsu makan, sehingga walaupun herbalnya bekerja sebagai anti-kolesterol, asupan kolesterol yang tinggi akan tetap meningkatkan kadar trigliserid.

ArtikelMetodeHasil
Pengaruh Pemberian Minyak Atsiri Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.) terhadap Nafsu Makan Tikus yang Ditekan Nafsu MakannyaIn-VivoPositif hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dengan dosis 20 mg/kg BB dapat meningkatkan berat badan tikus yang ditekan nafsu makannya secara signifikan dibandingkan kontrol negatif.
Khasiat Jamu Cekok Terhadap Peningkatan Berat Badan Pada Anak (Jurnal Kesehatan Masyarakat)In-VivoPositif ramuan jamu cekok berkhasiat meningkatkan berat badan adalah : temu ireng (Curcuma aeroginosa), temulawak (Curcuma xanthorriza robx), kencur (Kaempferla galanga L.), meniran (Phyl-lanthus niruri), lempuyang emprit (Zingiber americans), daun pepaya (Carica papaya L.), kunyit (Curcuma domestica Val.), sambiloto dan tempe busuk.
Pengaruh Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma Ulmifolia Lamk.) terhadap Bobot Badan Kelinci yang Diberi Pakan BerlemakIn-VivoEkstrak daun jati belanda tidak mampu menekan pertambahan bobot badan kelinci.

 

Temulawak sudah dikenal secara empiris dapat meningkatkan nafsu makan anak. Temulawak juga merupakan salah satu komposisi dari jamu cekok peningkat nafsu makan yang telah turun temurun digunakan (Limananti danTriratnawati, 2003). Kandungan temulawak yang diduga bertanggung jawab dalam efek peningkatan nafsu makan adalah minyak atsirinya (Awalin,1996). Efek peningkatan nafsu makan oleh minyak atsiri temulawak dimungkinkan karena sifat koleretiknya yaitu mempercepat sekresi empedu sehingga mempercepat pengosongan lambung serta pencernaan dan absorpsi lemak di usus yang kemudian akan mensekresi berbagai hormon yang meregulasi peningkatan nafsu makan (Ozaki dan Liang, 1988). Penelitian terdahulu membuktikan bahwa Minyak atsiri temulawak dapat meningkatkan nafsu makan tikus (Awalin,1996, Ardhiani, 2005, dan Ulfah,2010).

Penelitian tentang daun jati belanda pada Yossie Andriani / Jurnal Gradien Vol. 1 No. 2 Juli 2005 : 74-76, menghasilkan rerata bobot badan kelinci perlakuan kontrol cenderung lebih rendah dibandingkan dengan rerata bobot badan kelinci perlakuan ekstrak daun jati belanda, hal ini mungkin disebabkan rerata jumlah pakan yang dikonsumsi oleh perlakuan kontrol tersebut juga lebih rendah yaitu sebesar 68,7g atau 3,9% lebih rendah jika dibandingkan dengan rerata jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ketiga perlakuan lainnya (71,47 g). Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak daun Jati Belanda tidak mampu menekan nafsu makan kelinci perlakuan ekstrak yang mengakibatkan bertambahnya bobot kelinci pada ketiga perlakuan ekstrak daun Jati Belanda tersebut.

Pertambahan trigliserid pada Bapak Andika dapat disebabkan oleh peningkatan nafsu makan sehingga meningkatkan konsumsi makanan tinggi kolesterol seperti asam lemak jenuh. Asam lemak jenuh akan menjadi prekursor pembentukan trigliserida. Trigliserida merupakan simpanan lipid utama dalam jaringan adiposa, sehingga makin banyak Bapak Andika mengkonsumsi lemak maka semakin besar pula lipid dalam jaringan adiposa sehingga nilai trigliserida akan menjadi lebih besar meskipun ketiga herbal tersebut mempunyai efek anti-kolesterol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *